Sunday, September 20, 2009

buat ce single yg dah berumur :p...

Kirain Joke Doang

Ada sebuah email yang beredar cukup lama mengenai sikap wanita. Konon jika wanita itu dibawah 20 tahun maka dia akan bersikap siapa gua. Artinya sangat ego sentries dan sangat memilih pasangan hidupnya. Tapi jika dia sudah mencapai usia dibawah 30 tahun dia akan bersikap siapa lu. Artinya dia akan memilih pasangan hidup yang sudah mapan. Hanya saja ketika memasuki usia dibawah 40 tahun dan tak menemukan juga pasangan hidup maka dia akan bersikap siapa saja.

Saya tertawa mulanya membaca joke itu itu. Saya berpikir itu hanya sebatas becanda saja. Namun minggu lalu adik sepupu saya yang sudah berusia dibawah 40 tahun mengabarkan kalau dia sudah menjalin hubungan dengan seorang pria yang berusia dibawah 40 tahun dan berlainan gereja dengannya. Saya Tanya apa kamu yakin berhubungan dengan dia sementara kalian bisa dikatakan tidak seiman? Dia berkata yang membuat hati saya kecut, “Ya setidaknya ada orang yang mencintai saya itu cukuplah.” Suatu pemikiran yang simple kelihatannya namun tidak saya temukan keluar dari mulutnya 2 atau 4 tahun lalu. Saya bertanya-tanya mengapa dia berubah, lalu saya ingat joke diatas. Dan saya tertawa ada benarnya juga ya. Hahahaha. Seorang wanita yang tadinya sangat kuat berpegang pada prinsip pasangan hidup yang standar antara lain : ganteng, mapan, seiman, tiba-tiba memilih seseorang hanya berdasarkan hal yang simple bahwa dia mencintai. Saya Tanya lagi dari mana kamu yakin dia mencintai kamu, adik saya bilang karena dia menyatakan cinta pada saya. Oh, begitu rupanya. Lalu saya Tanya lagi apakah kamu mencintai dia, adik saya katakana, “Oh, cinta bisa tumbuh dengan sendirinya.” Saya terkejut tapi tersenyum lagi dalam diri. Ternyata dalam keadaan usianya sekarang dia sudah tidak memakai akal sehatnya. Dia hanya memakai sikap wanita dalam joke diatas, siapa saja yang datang melamar disambar saja. Tanpa berpikir hal itu bisa membuat dia berdarah-darah dalam pernikahannya kelak. Adik saya menambahkan, “Saya ingin berkeluarga, saya ingin punya anak, saya harus menikah sekarang, kalau tidak kapan lagi, umur saya sudah bertambah, saya takut tidak bias punya anak lagi.”

Oh, jadi itu alasan paling kuat yang ada dalam hatinya. Hanya karena ingin berumah tangga dan punya anak seperti teman-teman lainnya. Rupanya semua temannya sudah melepaskan masa lajang namun dia belum. Lalu atas desakan orang tua dan juga ledekan teman-temannya yang disimpan jauh dalam lubuk hati bisa membuat ia mengambil keputusan menikah dengan siapa saja yang menyatakan cinta. Saya berkata kepadanya, pernikahan tidak seindah yang dibayangkan orang. Ada orang yang masuk dalam pernikahan dengan sikap yang salah termasuk sikap ingin memiliki anak dan keluarga. Namun ternyata ketika dimasuki kehidupan di dalamnya penuh dengan riak dan gejolak sehingga membuat banyak orang memilih mundur dan menyesal kenapa menikah. Saya juga memberikan dia nasehat, bahwa sebaiknya mencari pasangan yang seimbang yang bisa memimpin dia sebagai imam keluarga. Jangan memilih pasangan yang tidak bisa membawa keluarga kepada Tuhan. Persoalan berlainan gereja bisa bermasalah dalam hal membawa anak-anak pada Tuhan. Yang satu maunya ke gereja ini dan yang lain ke gereja itu akhirnya karena tidak ada yang mengalah membuat keduanya tidak ke gereja dan anak-anak jadi bingung sehingga tidak ke gereja lagi.

Hal lain saya tanyakan kepada adik saya mengapa dia memili pasangannya sekarang, dia berkata, “Ya orangnya tidak ganteng, malah bias dikatakan pemalu, tapi saya tertarik dengannya karena dia smart.” Oh, begitu, jadi kembali joke diatas ada benarnya, dulu seingat saya adik saya ini sangat mementingkan penampilan lawan jenis, tapi rupanya seiring waktu pilihannya jadi berubah. Saya kembali tersenyum. Saya coba katakan kepadanya pernikahan tidak dibangun hanya dengan rasa tertarik saja, melainkan adalah rasa cinta diantara kedua belah pihak. Jika hanya satu pihak saja yang mencintai maka sudah pasti akan timpang. Alasan rasa cinta bisa tumbuh dengan sendirinya hanyalah alasan klasik yang harus ditebus dengan pengorbanan perasaan bertahun-tahun lamanya dan penderitaan akibat ketimpangan tersebut. Sementara dua orang yang saling mencintai akan memiliki komitmen untuk memegang teguh pernikahan mereka kelak. Maka karena adik saya ngotot, saya hanya bisa katakan kepadanya sabarlah menunggu waktu Tuhan. JIka kamu sabar kamu akan menemukan yang terbaik. Karena kamu adalah permata Tuhan, permata itu mahal harganya, sehingga pembeli pun sangat jarang, namun jika sabar menunggu pasti menemukan yang terbaik. Berbeda dengan batu di pinggir jalan yang bisa siapa saja pungut. JIka ada orang yang mau ambil batu itu bisa diambil kapan saja dan siapa saja, namun setelah itu batu tersebut menjadi tidak berharga. Saya melihat kecenderungan orang untuk memilih siapa saja ketika usianya merangkak naik sangat berbahaya bagi kehidupan mereka pribadi kelak. Sudah banyak kasus saya temukan para istri yang menjadi korban karena hal ini. Sebulan lalu seorang wanita yang sudah menikah empat tahun menangis dengan sedihnya mengabari dia dipukul suaminya karena kembali bergereja. “Tadinya kami menikah di gereja saya, dia berkata akan ikut ke gereja saya, tapi setelah beberapa tahun dia berubah. Dia kembali ke gerejanya dan mengajak saya ke sana. Saya tidak mau karena saya merasa kering disana dia marah dan mulai membentak saya. Lama-kelamaan malahan memukul saya dan menyuruh anak-anak tidak boleh ke gereja saya juga. Saya sangat putus asa,” ujarnya terisak-isak. Ada lagi seorang yang mengabarkan melalui email kepada saya, “Hen, coba aku dengarkan nasehat kamu dua tahun lalu ya begini saya tidak menderita. Aduh Hen, dia berubah, saya tidak mengenalinya lagi, saya pikir saya bisa mengubahnya, saya pikir dia gampang diubah, saya piker dia lemah, tapi ternyata semua sandiwara. Dia yang mulanya ikut saya menjadi berubah setelah kami menikah sekarang. Baru kelihatan sikap aslinya, aduh saya gak kuat, saya ingin kembali ke papa mama saja.”

Sementara seorang teman lagi menelpon saya dan memberitahukan kondisinya sekarang, bahwa dia sudah lari dari suaminya karena tidak tahan. Selain suka memukul suaminya juga selingkuh. “Saya pikir dia baik tapi ternyata dia menyimpan wanita lain aduh hancur saya, lebih baik pisah deh.”

Ketiga teman diatas hanyalah contoh dari sekian kasus yang ada karena menikah dengan siapa saja. Kehidupan pernikahan membutuhkan cinta sebagai pengikat. Kejujuran sebagai batu ujian. Dibutuhkan perasaan saling pengertian, saling mendukung, saling memberi, saling berkorban dan saling lainnya. Hal yang paling penting juga adalah seiman. Karena hal ini akan membawa rumah tangga pada kehidupan kelak ke surga.
Makanya seorang kolega saya di kantor dulu yang sudah mencapai usia 35 tahun mengatakan, “Saya lebih baik tidak menikah daripada menikah dengan orang yang salah.” Sedangkan yang lain yang sudah berusia 38 tahun berkata, ”Saya bisa lebih bebas melayani Tuhan dengan keadaan seperti ini, tidak dipusingkan dengan suami atau anak-anak. Saya tidak takut menghadapi hari tua karena Tuhan beserta saya, masakan kita yang sudah melayani Dia akan ditinggalkan sendiri.”

Ada lagi seorang wanita lajang diusianya yang mencapai 37 tahun berkata, “Saya happy dengan kondisi saya, saya tidak lagi dibebani dengan keinginan menikah, toh teman-teman saya yang menikah malahan iri dengan saya katanya, kamu enak tidak menikah ya sehingga bisa kemana saja sementara kami sangat terikat harus menyenangi suami yang tidak tahu diri. Hahahaha.”

Ya, pernikahan atau tidak adalah soal pilihan. “Saya sudah berdoa dan puasa kak, sehingga saya memutuskan memilih dia,” kata adik sepupu saya lagi. Saya katakan baik sekali tindakan kamu, tapi apa kamu berdoa dan berpuasa itu untuk memaksa Tuhan menerima kehendakmu atau bagaimana. Karena banyak orang berprinsip yang penting berdoa dulu sebelum bertindak tapi mereka sudah membawa konsep dulu kepada TUhan
dan memohon-mohon agar Tuhan menyetujui konsep itu. Sementara yang benar adalah datang kepada Tuhan seperti kertas kosong dan meminta Dia menggoreskan jalan dan kehendakNya diatas kertas itu. Itulah esensi doa dan puasa yang tepat. Namun adik saya tetap ngotot juga. Akhirnya saya katakan padanya mintalah tanda pada Tuhan, jalanilah dulu, tidak usah buru-buru menikah, mungkin saja dalam masa pacaran kalian akan menemukan hal yang tidak terduga, menikahlah dengan orang yang mencintai kamu dan juga yang kamu cintai, menikahlah dengan orang yang bisa memimpin kamu kepada Tuhan dan bukan sebaliknya, menikahlah dengan orang yang bisa kamu ajak berkomunikasi, menikahlah dengan orang yang Tuhan kehendaki bukan yang kamu kehendaki.

Penulis : Hendra Kasenda
Source : milist terang dunia







No comments:

Post a Comment